Muslim Albania Selamatkan 2000 Yahudi
24 08 2008”Orang Islam menyelamatkan orang-orang Yahudi? Bagaimana mungkin?” Pertanyaan itu dilontarkan banyak orang pada Norman Gershman, saat mereka melihat foto-foto dan mendengar cerita Gershman tentang Muslim yang menyelematkan banyak orang Yahudi saat tragedi Holocaust.
Gershman, lima tahun belakangan ini terlibat dalam proyek BESA, proyek untuk memberikan penghormatan terhadap keberanian warga Muslim Albania dan menyelamatkan ribuan orang Yahudi baik yang tinggal di Albania maupun yang menjadi pengungsi pada Perang Dunia II.
“BESA adalah tradisi masyarakat Albania sejak ribuan yang lalu. BESA falsafahnya adalah, ketika ada orang yang mengetuk pintu rumah Anda untuk minta bantuan, maka Anda punya kewajiban untuk menolongnya, tak peduli siapa orang itu, ” jelas Gershman.
Ia memulai proyek BESA berawal dari New York, ketika sedang mencari foto-foto orang-orang non-Yahudi yang telah membantu para Yahudi dari kejaran tentara NAZI pada masa Holocaust. Ia tercengang ketika menemukan nama-nama Muslim di antara nama-nama non-Yahudi itu. Apalagi ketika diberitahu bahwa mereka adalah Muslim Albania.
Rasa ingin tahu membawanya ke museum holocaust Yad Vashem yang dibangun Israel di Yerusalem. Di museum itu, ia lebih banyak lagi menemukan nama-nama Muslim Albania. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke pelosok Albania dan Kosovo. “Di sana saya bertemu dengan mereka yang kini sudah berusia 60 tahunan bahkan lebih tua dari itu, yang ketika Holocaust terjadi mereka masih usia anak-anak, dan merekalah yang menyelamatkan Yahudi-Yahudi itu, ” ujar Gershman.
Ia menghabiskan waktu lebih dari empat tahun untuk mengumpulkan foto-foto hitam putih dan kisah-kisah tentang Muslim Albania yang menyelamatkan orang-orang Yahudi dari Holocaust. Gershman kemudian menggelar pameran pertamanya di Yad Vashem bulan November lalu, kemudian pameran di markas besar PBB di New York, sebelum memutuskan untuk pameran ke seluruh dunia.
Selain foto-foto, Gershman juga membuat buku-buku berisi profil Muslim Albania dan Kosovo yang menyelamatkan orang-orang Yahudi dan sedang membuat film dokumentarnya, yang diharapkan sudah bisa dirilis pada tahun 2009. “Saya bahagia dan bangga bisa menunjukkan kisah ini pada dunia, ” tukas Gershman.
Gershman membantah pernyataan yang mengatakan bahwa Muslim Albania telah menyerahkan orang-orang Yahudi pada NAZI, karena yang terjadi adalah sebaliknya. Muslim Albania justeru memberikan perlindungan pada orang-orang Yahudi. Ini terlihat dari jumlah orang-orang Yahudi di Albania yang meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan sebelum masa Perang Dunia II.
“Albania adalah satu-satunya wilayah pendudukan NAZI yang memberikan perlindungan pada orang-orang Yahudi. Kedatangan orang-orang Yahudi dianggap sebagai tamu, diberi nama Muslim dan tinggal bersama keluarga-keluarga Muslim, ” tutur Gershman.
Dari cerita-cerita yang disampaikan Muslim Albania, Gershman menemukan alasan mengapa warga Muslim Albania menyelamatkan orang-orang Yahudi, yaitu tradisi BESA yang merupakan manifestasi dari ajaran Islam bahwa seorang Muslim harus menepati janjinya dan melindungi yang lemah.
“Saya ingat, sebagian dari mereka bilang ‘tidak ada BESA tanpa Qur’an. Mereka menyelamatkan orang-orang Yahudi atas nama agama yang mereka anut. Mereka sama sekali tidak menyimpan prasangka buruk, ” ungkap Gershman.
Ia melanjutkan, “Saya pernah bertanya pada mereka ‘mengapa Anda melakukan ini semua?’ Apa yang diajarkan Qur’an sehingga Anda melakukan ini?’. Mereka cuma tersenyum dan sebagian mereka menjawab ‘kami menyelamatkan hidup orang lain supaya bisa masuk surga’.”
Islam Tidak Seperti Gambaran Dunia Barat
Gershman meyakini keberanian Muslim Albania dalam melindungi dan menyelamatkan orang-orang Yahudi dari ancaman Holocaust adalah sebuah tindakan yang luar biasa. “Ini merupakan sejarah yang penting, di mana ribuan Yahudi telah diselamatkan oleh Muslim Albania, ” katanya.
Apa yang dilakukan Muslim Albania menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki toleransi keagamaan yang tinggi. Sebuah fakta yang bertolak belakang dengan maraknya stereotipe terhadap umat Islam yang dilakukan Barat.
Terkait hal ini, Gershman menyampaikan pesan pada dunia Barat bahwa banyak sekali orang-orang yang berhati mulia di dunia ini, dan banyak di antara mereka adalah Muslim. “Kalau Anda melihat foto-foto dan membaca kisah-kisahnya, tidak diragukan lagi bahwa mereka (Muslim Albania) adalah orang-orang yang berhati mulia, ” imbuh Gershman.
“Jika ada yang melihat foto-foto saya, khususnya di negara-negara Barat dan mengatakan bahwa mereka adalah militan dan pendukung kekerasan, saya menolak pernyataan itu, ” tegas Gershman, seorang Yahudi Amerika yang kini sedang belajar sufisme.
“Islam tidak seperti yang ada dalam pikiran orang-orang Barat. Buat saya, Islam adalah puisi, ilmu pengetahuan, agama yang sempurna. Islam ada keindahan, ” tandas Gershman. (ln/iol-Eramuslim)
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Internasional, Uncategorized
Cara Kapitalis Merampas Negara
8 08 2008Oleh A. Jafar M. Sidik
Jakarta (ANTARA News) – “Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini.”
Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku “The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism” karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007).
Buku setebal 558 halaman yang struktur kisahnya rapi dan dinilai koran “The Observer” sebagai buah dari riset mahasempurna ini menyingkap muslihat kaum kapitalis yang secara menyeramkan menggasak aset negara, tak peduli jutaan orang mati dan jatuh melarat karenanya.
Para kapitalis ini mengarsiteki sekaligus mensponsori kudeta-kudeta berdarah di seluruh dunia, swastanisasi aset dan sistem pelayanan publik, krisis moneter, merger dan akuisisi perusahaan pasca krisis, liberalisasi perdagangan, invasi Irak, bahkan gerakan demokratisasi.
Selain mewujud dalam perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs), mereka mengotaki Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bahkan organisasi-organisasi bantuan internasional seperti Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Mereka melekat pada lembaga-lembaga “think tank” terkenal seperti American Enterprise Institute, Heritage Foundation dan Cato Institute, sementara ruhnya bersemayam dalam sejumlah universitas Barat yang menjadi tempat berkuliah para teknokrat negara berkembang yang belajar karena biaya asing.
Kaum kapitalis ini tak peduli sebuah rezim zalim atau tidak, demokratis atau tidak, korup atau tidak, yang penting menguntungkan mereka, persis pepatah mantan pemimpin RRC Deng Xiaoping, “Tak penting kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus.”
Kaum yang disebut Naomi neoliberal ini sangat anti kepemilikan publik dan berupaya membuat pemerintahan di banyak negara lumpuh sehingga merekalah yang sesungguhnya berkuasa atas negara dan sistem transaksi sosial, ekonomi dan politik antar-bangsa.
“Saya ingin pemerintah dikerdilkan sampai saya bisa menyeretnya ke kamar mandi untuk kemudian membenamkannya dalam bak mandi,” kata Grover Norquist, pelobi kepentingan bisnis MNCs terkenal di AS sekaligus pembela fanatik neoliberal.
Untuk mengerdilkan pemerintah, mereka mempunyai modus, yaitu mengacaubalaukan negara dengan menciptakan situasi krisis sampai kesadaran nasional negara itu hilang, terutama berkaitan dengan konsep dasar pengelolaan ekonominya.
Negara itu lalu dipaksa menelan resep ekonomi propasar dalam dosis tinggi nan beruntun, tak peduli rakyatnya bakal sengsara. Hal terpenting, negara itu menjadi amat tergantung pada modal asing(kapitalis) sehingga setiap saat bisa dieksploitasi oleh kaum kapitalis itu.
Metode membuat syok nasional sehingga negara tak sadar telah dikuasai kapitalis ini disebut Naomi Klein sebagai “Shock Doctrine.”
Naomi menganalogikan terapi syok ekonomi ini dengan doktrin militer AS “kejutkan dan takutkan” (shock and awe) dan metode cuci otak ala dinas intelijen AS (CIA), “kubark counter intelligence interrogation.”
Lewat “kubark”, CIA membunuh karakter manusia dengan teknik interogasi mengerikan sehingga memori manusia hilang untuk kemudian diganti karakter baru jadi-jadian, seperti dalam kisah trilogi “Bourne” yang dibintangi aktor Hollywood, Matt Damon.
Dalam format berbeda, para ekonom neoliberal mengaplikasikan metode dekarakterisasi ala CIA ini ke tingkat negara dengan membuat negara berada dalam suasana krisis, sehingga gampang dipaksa untuk menelan resep kebijakan ekonomi prokapitalis yang formula dasarnya adalah liberalisasi pasar, penghapusan subsidi, dan swastanisasi aset publik.
Penggagas terapi syok itu adalah ekonom Universitas Chicago, Milton Friedman, seorang penentang intervensi negara dalam pengelolaan ekonomi yang dulu disarankan ekonom besar pasca-Perang Dunia I, John Maynard Keynes.
Friedman percaya bahwa perekonomian harus diserahkan sepenuhnya pada pasar dan ia ingin dunia mempraktikannya tanpa kecuali.
Terinspirasi sukses Mafia Berkeley di Indonesia akhir 1960-an dan junta militer Brazil pimpinan Castello Branco yang mengakhiri ekonomi kerakyatannya Presiden Joao Gullart pada 1964, Friedman membidik Chile sebagai kelinci percobaan pertamanya.
Chile awal 1970-an diperintah Salvador Allende yang mengusung sistem ekonomi sosialis yang tak mengharamkan kepemilikan swasta, namun mengharuskan negara melindungi kepentingan publik. Ekonomi sosialis Chile berbeda dari komunisme, seperti diklaim AS, bahkan mirip azas demokrasi ekonominya Mohammad Hatta di Indonesia.
Karena ingin menasionalisasi perusahaan asing, maka sosialisme Allende itu lalu dipandang korporasi-korporasi multinasional asal AS sebagai ancaman. Salah satu yang terancam, American Telephone & Telegraph (AT&T), mendesak pemerintah AS untuk mencungkil Allende dari kekuasaannya.
Sebelum mendongkel Allende, AS mendidik mahasiswa-mahasiswa Chile di Universitas Chicago di bawah asuhan Milton Friedman dengan tujuan mengimbangi popularitas para ekonom sosialis pimpinan Pedro Vuskovic Bravo yang menjadi arsitek kebijakan ekonomi Allende.
Untuk mengaburkan intervensi, pemerintah AS bersembunyi dibalik Ford Foundation, yang juga mensponsori para mahasiswa Indonesia berkuliah di Universitas California, Berkeley, pada 1956 hingga menjadi teknokrat Orde Baru.
Para mahasiswa Chile yang dibiasakan mempelajari ekonomi neoliberal ini disiapkan sebagai teknokrat pasca Allende.
Pada 1973, Allende akhirnya digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan CIA.
Selagi Pinochet menebarkan teror hingga rakyat Chile syok dalam ketakutan, para ekonom Friedmanis menyuntikkan resep propasar (prokapitalis) dalam dosis tinggi hingga Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing.
Paparan Chile ini adalah awal cerita horor pasar bebas yang menjadi isi utama buku yang disebut Dow Jones sebagai salah satu literatur ekonomi terbaik abad 21 ini.
Horor berlangsung hingga era pemerintahan George Bush yang disebut sebagai puncak kebrutalan pasar bebas hingga dunia pun muak sampai-sampai Amerika Latin alergi dengan apa pun yang berbau Friedmanis seperti IMF.
“Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF,” kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.
Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis.
Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca-komunis adalah beberapa contoh.
Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom reformis bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi negara.
Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut korporasi asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Solomon Brothers dan ExxonMobil.
Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.
Polandia juga menyesal mematuhi nasihat pialang George Soros dan ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.
Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan propasar. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.
Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.
Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia “berkhianat” dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia.
Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.
Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.
“Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir,” kata ekonom Robert Wade.
Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.
Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.
Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.
Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, diantaranya Srilangka.
Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilangka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.
Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilangka, agar “menukarkan” pantai indah Srilangka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.
Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis dan bencana alam. Naomi Klein menyebutnya, “kapitalisme bencana”. (*)
COPYRIGHT © 2008
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Indonesia, Internasional, Uncategorized
Daur Ulang Jiwa
10 05 2008“Jadi, engkaulah yang ingin berbicara denganKu?” tanya Tuhan.
“Ya, tentu, bila Engkau punya waktu,” jawabku sopan.
Tuhan tersenyum.
“WaktuKu tidak ada batasnya. Apa yang ada dalam benakmu yang hendak kau tanyakan? tanya Tuhan.
“Manusia manakah yang karakternya sangat menakjubkan-Mu?” tanyaku
“Kekanak-kanakan mereka. Mereka merasa letih dengan masa kanak-kanak dan ingin cepat dewasa. Setelah dewasa mereka ingin menjadi anak-anak kembali…..Mereka kehilangan kesehatan untuk mendapatkan uang dan menghabiskan uang untuk mendapatkan kesehatan kembali. Mereka memandang masa depan dengan mata kekhawatiran dan melupakan masa yang sedang dijalani…..Mereka tidak hidup di masa depan, juga tidak hidup di masa itu. Mereka hidup seolah-olah tidak akan mati dan mati seolah-olah tidak akan hidup lagi.
Tuhan memegang tanganku dan untuk beberapa saat saya terdiam.
Kemudian aku bertanya lagi, “Sebagai Pencipta, pelajaran hidup mana yang Engkau ingin hamba-hambamu belajar darinya?”
Tuhan menjawab, “Mereka harus belajar, bahwa tidak mudah bisa memaksa seseorang menjadi kekasih mereka. Hanya satu hal yang bisa ia pelajari, biarkan ia mencintai dirinya sendiri. Ia juga harus belajar untuk tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia harus belajar bahwa hanya dalam beberapa detik mereka bisa melukai hati seseorang, namun perlu beberapa tahun untuk menyembuhkannya. Ia juga harus belajar bahwa orang kaya bukanlah orang yang memiliki sesuatu yang banyak, dan bahwa orang kaya adalah orang yang paling sedikit membutuhkan. Mereka harus belajar bahwa banyak orang yang menyukai mereka, tapi mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Dua orang bisa melihat ke suatu titik, namun dengan pandangan berbeda; dan tidak cukup memberi maaf kepada orang lain. Mereka juga harus bisa memaafkan diri sendiri.
Dengan segenap sikap khusuk, aku katakan, “Saya mengucapkan terimakasih atas kata-kata-Mu tadi. Apakah ada hal lain yang Kau ingin supaya hamba-hambamu mengetahuinya?”
Tuhan tersenyum dan berkata, “Tidak ada lagi, tapi mereka harus tahu bahwa Aku disini.”
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Uncategorized
Bye-Bye Weakness
10 05 2008DUA HARI LALU, seorang teman mengirim pesan ini:
“Saya punya enam kawan pria bujang. Empat usianya di atas 30 tahun dan dua sisanya sudah mendekati setengah abad. Semuanya kenal banyak dokter. Yang di atas 30 rata-rata masuk rumah sakit tiga kali setahun. Yang hampir 50, masing-masingnya sudah dua kali masuk ICU.”
Saya scroll sms ke bawah, tak sabar dan bingung memahami maksud sms ini.
“Lalu, saya punya sejumlah kerabat perempuan yang juga belum menikah. Usianya beragam, mulai 30 tahun sampai 40 tahun. Tapi, anehnya, mereka tidak terlalu gelisah atau stress. Mereka sepertinya punya cara untuk menanggulangi tekanan mental akibat tidak memiliki pasangan.”
Saya tambah bingung!
“Pertanyaan saya: Apakah perempuan memang lebih tahan stress? Apakah mereka lebih mampu menghadapi kesendirian tanpa pasangan? Apakah Allah menciptakan mereka lebih mampu meredam gejolak dan tekanan jiwa ketimbang lelaki?”
Saya jelas tak mampu menjawab soal-soal di atas.
Tapi, sejauh mata saya memandang, perempuan memang agaknya lebih tahan tekanan, lebih tidak meledak-ledak menghadapi keadaan gawat. Kalau ayah harus merawat anak, mungkin bisa banyak anak yang benjol. Tapi semua ini masih kemungkinan dan asumsi-asumsi saja.
Yang sudah lebih pasti, jika lelaki harus hamil, akibatnya bisa sangat fatal. Saya yakin, lelaki bisa “ngidam” lebih mengerikan drpd perempuan.
Saya justru sering menemukan kekuatan perempuan pada saat mereka harus mengalami “menstruasi”, “kehamilan”, “monopose” dan sejenisnya. Sama sekali saya tidak bisa membayangkan bagaimana berantakannya lelaki bila harus mengalami derita-derita serupa itu.
Nah, dari sini saya menemukan bahwa manja atau mudah mengeluh itu lebih sebagai sifat anak-anak yang hanya bisa disembuhkan oleh kasih sayang dan perhatian ibu. Ayah kurang berperan dalam hal ini.
Ini hanya renungan sederhana, yang sampai sekarang belum berani saya sampaikan pada si penanya. Karena, menurut para kyai, sesuai pemahaman mereka dari al-Qur’an, “lelaki” adalah pihak yang “lebih kuat”.
Mungkin itu pula, saat saya menemukan perempuan-perempuan yang lemah, saya khawatiran mereka sebenarnya telah tertular oleh penyakit-penyakit lelaki. Bahkan kehilangan kodratnya sebagai seorang ibu. ****(MK)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Uncategorized

