DUA HARI LALU, seorang teman mengirim pesan ini:
“Saya punya enam kawan pria bujang. Empat usianya di atas 30 tahun dan dua sisanya sudah mendekati setengah abad. Semuanya kenal banyak dokter. Yang di atas 30 rata-rata masuk rumah sakit tiga kali setahun. Yang hampir 50, masing-masingnya sudah dua kali masuk ICU.”
Saya scroll sms ke bawah, tak sabar dan bingung memahami maksud sms ini.
“Lalu, saya punya sejumlah kerabat perempuan yang juga belum menikah. Usianya beragam, mulai 30 tahun sampai 40 tahun. Tapi, anehnya, mereka tidak terlalu gelisah atau stress. Mereka sepertinya punya cara untuk menanggulangi tekanan mental akibat tidak memiliki pasangan.”
Saya tambah bingung!
“Pertanyaan saya: Apakah perempuan memang lebih tahan stress? Apakah mereka lebih mampu menghadapi kesendirian tanpa pasangan? Apakah Allah menciptakan mereka lebih mampu meredam gejolak dan tekanan jiwa ketimbang lelaki?”
Saya jelas tak mampu menjawab soal-soal di atas.
Tapi, sejauh mata saya memandang, perempuan memang agaknya lebih tahan tekanan, lebih tidak meledak-ledak menghadapi keadaan gawat. Kalau ayah harus merawat anak, mungkin bisa banyak anak yang benjol. Tapi semua ini masih kemungkinan dan asumsi-asumsi saja.
Yang sudah lebih pasti, jika lelaki harus hamil, akibatnya bisa sangat fatal. Saya yakin, lelaki bisa “ngidam” lebih mengerikan drpd perempuan.
Saya justru sering menemukan kekuatan perempuan pada saat mereka harus mengalami “menstruasi”, “kehamilan”, “monopose” dan sejenisnya. Sama sekali saya tidak bisa membayangkan bagaimana berantakannya lelaki bila harus mengalami derita-derita serupa itu.
Nah, dari sini saya menemukan bahwa manja atau mudah mengeluh itu lebih sebagai sifat anak-anak yang hanya bisa disembuhkan oleh kasih sayang dan perhatian ibu. Ayah kurang berperan dalam hal ini.
Ini hanya renungan sederhana, yang sampai sekarang belum berani saya sampaikan pada si penanya. Karena, menurut para kyai, sesuai pemahaman mereka dari al-Qur’an, “lelaki” adalah pihak yang “lebih kuat”.
Mungkin itu pula, saat saya menemukan perempuan-perempuan yang lemah, saya khawatiran mereka sebenarnya telah tertular oleh penyakit-penyakit lelaki. Bahkan kehilangan kodratnya sebagai seorang ibu. ****(MK)